Mahkota Cahaya di Surga:
Hadiah Terindah Seorang Hafiz untuk Kedua Orang Tuanya
Sebagai seorang anak, seringkali terbesit pertanyaan di benak kita: “Apa yang bisa kuberikan untuk membalas keringat ayah dan air mata ibu?”
Mungkin sebagian dari kita berpikir tentang rumah mewah, kendaraan baru, atau emas perhiasan. Semua itu adalah hal mulia. Namun, bagi seorang Muslim, visi kebahagiaan tidak berhenti di dunia. Ada satu hadiah yang nilainya melampaui emas permata, sebuah hadiah yang tidak bisa dibeli dengan uang, namun hanya bisa ditebus dengan ketekunan menjaga kalam Ilahi.
Hadiah itu adalah Mahkota Cahaya di akhirat kelak. Sebuah janji agung bagi para penghafal Al-Qur’an (Hafiz) yang diamalkan dalam kehidupan.
Janji Rasulullah SAW: Sebuah Legitimasi Langit
Motivasi terbesar seorang santri penghafal Al-Qur’an bukanlah pujian manusia, melainkan janji Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Hakim dan Abu Daud, digambarkan betapa istimewanya posisi orang tua dari seorang penghafal Al-Qur’an di hari pembalasan nanti.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَتَعَلَّمَهُ وَعَمِلَ بِهِ أُلْبِسَ وَالِدَاهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَاجًا مِنْ نُورٍ ضَوْؤُهُ مِثْلُ ضَوْءِ الشَّمْسِ ، وَيُكْسَى وَالِدَاهُ حُلَّتَيْنِ لَا يَقُومُ لَهُمَا الدُّنْيَا فِيَقُولَانِ : بِمَا كُسِينَا هَذَا ؟ فَيُقَالُ : بِأَخْذِ وَلَدِكُمَا الْقُرْآنَ
Artinya: “Siapa yang menghafal Al-Qur’an, mengkajinya dan mengamalkannya, maka Allah akan memakaikan mahkota bagi kedua orang tuanya dari cahaya yang bersinar seperti cahaya matahari. Dan kedua orang tuanya akan dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya pun bertanya: ‘Mengapa kami dipakaikan jubah ini?’ Maka dikatakan: ‘Karena anakmu telah membawa (menghafal dan mempelajari) Al-Qur’an’.” (HR. Al-Hakim & Abu Daud)
Pesan untuk Para Santri: Lelahmu adalah Investasi
Untuk kalian, para pejuang Al-Qur’an yang sedang berjuang di pondok pesantren.
Saat rasa kantuk menyerang di jam-jam tahfidz, atau saat lidah terasa kelu mengulang ayat yang sulit, ingatlah hadits di atas. Bayangkan wajah ayah dan ibu kalian.
Bayangkan senyum mereka saat di Yaumul Mahsyar nanti. Saat semua orang ketakutan dan ketidakpastian, ayah dan ibu kalian justru dipanggil untuk menerima mahkota yang sinarnya lebih terang dari matahari.
Setiap huruf yang kalian baca, setiap kantuk yang kalian lawan, adalah butiran cahaya yang sedang kalian rangkai menjadi mahkota tersebut. Jangan menyerah. Lelah kalian Lillah (karena Allah), dan balasannya adalah Jannah.
Pesan untuk Wali Santri: Rindu yang Berbuah Surga
Bapak dan Ibu Wali Santri yang dirahmati Allah, kami mengerti beratnya melepaskan buah hati ke pesantren. Rumah terasa sepi, dan kerinduan terkadang melanda.
Namun, yakinlah bahwa perpisahan sementara di dunia ini adalah harga yang harus dibayar untuk kebersamaan abadi di surga nanti. Janganlah bersedih. Anak Bapak dan Ibu tidak sedang “dibuang”, mereka sedang dididik menjadi pahlawan yang kelak akan menyelamatkan kedua orang tuanya di hadapan Allah SWT.
Dukunglah mereka dengan doa dan motivasi. Ketika mereka lelah, jadilah penyemangat. Katakan pada mereka: “Nak, Ayah dan Ibu tidak meminta harta darimu. Cukup berikan kami mahkota itu nanti.”
Penutup
Menjadi Penghafal Al-Qur’an bukan sekadar soal hafal 30 juz. Ia adalah perjalanan cinta antara hamba dengan Rabbnya, dan wujud bakti tertinggi seorang anak kepada orang tuanya.
Semoga Allah SWT memudahkan langkah para santri dalam menjaga kalam-Nya, dan memberikan kesabaran serta kemuliaan bagi para orang tua yang telah mengikhlaskan anaknya di jalan Allah.
Wallahu a’lam bishawab.
Oleh : Aliq Diyaulhaq, BA. (Peserta Sekolah Tabligh PWM Jawa atengah)
