Telaah Singkat Jejak Historis Penetapan Kaidah:
Makhorijul Huruf dan Sifat-sifatnya

Sahabat Qur’an, pernahkah terbesit di benak kita sebuah pertanyaan: “Kapan sebenarnya kaidah Makhorijul Huruf dan Sifat Huruf pertama kali muncul? Siapa pencetusnya, dan apakah kaidah ini sudah dibakukan sejak zaman Nabi Muhammad SAW?”

Ternyata, kodifikasi atau pembukuan kaidah Makhorijul Huruf dan shifatul huruf baru muncul sekitar abad ke-2 Hijriah. Tokoh yang pertama kali mencetuskannya adalah Al-Imam Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi.

Beliau menuangkan kaidah ini dalam kitab karangannya yang sangat masyhur berjudul “Kitabul ‘Ain” (كتاب العين). Imam Al-Khalil adalah seorang ulama besar di bidang bahasa Arab yang berasal dari Oman, kemudian berhijrah dan menetap di Basrah (Irak) hingga wafat pada tahun 170 Hijriah. Kehebatan ilmunya juga menurun kepada muridnya, yaitu Al-Imam Sibawaih, ulama besar yang menjadi rujukan utama dalam ilmu Nahwu hingga saat ini.

Metode “Mencicipi” Huruf

Lantas, bagaimana metode Imam Al-Khalil dalam menemukan kaidah ini? Imam Sibawaih pernah berkata:

إِنَّ الخَلِيلَ ذَاقَ الحُرُوفَ

“Sesungguhnya Al-Khalil telah mencicipi rasa huruf.”

Maksud dari perkataan Imam Sibawaih ini adalah: sebelum menentukan makhraj (tempat keluar) dan shifat dari suatu huruf, Imam Al-Khalil akan melafalkan huruf tersebut dengan benar secara berulang-ulang. Beliau seolah-olah “mencicipi”, merenungi getarannya, serta menelaah karakteristik unik apa yang dimiliki huruf tersebut namun tidak dimiliki oleh huruf lainnya.

Hal ini beliau lakukan secara teliti terhadap seluruh 29 huruf Hijaiyah, sehingga terciptalah rumusan kaidah Makhorijul Huruf dan Shifat Huruf yang kita pelajari hari ini.

Sebuah Dedikasi untuk Umat

Semua jerih payah itu beliau lakukan semata-mata untuk mempermudah umat Islam terutama kita yang bukan penutur asli bahasa Arab (‘Ajam) agar mampu melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan fasih, baik, dan benar sesuai dengan lisan Arab yang fasih.

Semoga Allah membalas usaha beliau dengan balasan yang sempurna di sisi-Nya. Aamiin.

Sebagaimana Al-Imam Asy-Syatibi dalam Nadzom Asy-Syatibiyyah melantunkan bait indah:

جَزَى اللهُ بِالخَيْرَاتِ عَنَّا أَئِمَّةً ۞ لَنَا نَقَلُوا القُرْآنَ عَذْباً وَسَلْسَلَا

“Semoga Allah membalas dengan kebaikan kepada para imam (qiraat) terdahulu,

yang telah membawa Al-Qur’an kepada kita dalam keadaan tawar (mudah dipelajari) dan bersambung sanadnya.”

Oleh: Al-Faqir M. Hakimul Basyar, Lc.

Scroll to Top